Lapor Pajak: PTKP for the ladies

April 13, 2017 § Leave a comment

Sudah pada lapor pajak, ladies? Dengan cara manual (alias lapor dengan mendatangi langsung kantor pajak) atau dengan cara online dengan menggunakan e-fin?

Apapun cara yang dipilih, gak masalah, yang penting kita tahu cara menghitung PTKP kita. Terutama buat para wanita yang gak gabung laporan pajaknya ama suami (buat yang sudah menikah).

Tulisan di bawah ini saya copy dari blog Bapak Nasikhudin mengenai PTKP Wanita, untuk membaca tulisan asli Bapak Nasikhudin, bisa langsung klik link diatas yah.

SAYA akan mengawali tahun 2016 ini dengan tulisan mengenai PTKP, khususnya PTKP Wanita. Setelah banyak respon terhadap tulisan saya sebelumnya, NPWP Bagi Wanita Yang Telah Kawin saya pikir ada baiknya kalau saya membahas mengenai PTKP Wanita. Saya banyak menerima email maupun pertanyaan secara langsung mengenai penerapan NPWP Wanita Kawin tersebut. Jadi, karena para wanita ingin dimengerti, tulisan ini adalah sebagai bentuk pengertian saya (tsaah…)

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) merupakan amanat Pasal 6 ayat (3) UU PPh yang menyebutkan bahwa kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak Dalam Negeri diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Pasal 7 UU PPh sendiri mengatur mengenai besaran PTKP yang telah beberapa kali diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan. Untuk tabel besaran PTKP dari masa ke masa dapat dilihat di sini.

Pasal 8 UU PPh mengatur beberapa hal di bawah ini:

Keluarga, di hadapan UU PPh, ditempatkan sebagai unit kesatuan ekonomis. Maksudnya, suami, istri dan/atau anak yang belum dewasa ditempatkan sebagai satu unit ekonomis. Akibatnya, suami, istri dan anak yang belum dewasa menggunakan NPWP kepala keluarga sebagai alat administrasi perpajakannya dan penghasilan dan/atau kerugian istri dan/atau anak yang belum dewasa dilaporkan sebagai penghasilan dan/atau kerugian suami sebagai kepala keluarga.
Dalam hal istri memperoleh penghasilan semata-mata diterima dari satu pemberi kerja dan telah dipotong PPh Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya, maka penghasilan tersebut dikenai PPh bersifat final
Menyimpang dari ketentuan di atas, suami istri dapat dikenai pajak secara terpisah apabila:
– suami istri telah hidup berpisah berdasarkan putusan hakim
– dikehendaki secara tertulis oleh suami istri berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan
– dikehendaki oleh istri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri
Oleh karena itu, untuk menentukan PTKP Wanita bisa diawali dari melihat status wanita tersebut, apakah kawin atau tidak/belum kawin–sebut saja wanita lajang. Tentu saja yang dimaksud kawin di sini adalah wanita yang telah menikah dengan laki-laki, bukan dengan wanita (perkawinan sejenis). Di Amerika sendiri, meskipun pernikahan sejenis diperbolehkan, tetapi yang dimaksud kawin di UU Pajak mereka tetap pernikahan seorang wanita dan seorang laki-laki. Disebutkan bahwa same-sex couples are prohibited from filing joint federal income tax returns even if legally married under state law. For federal tax purpose, marriage is restricted to a ‘legal union between a man and woman as husband and wife’.

PTKP Wanita Lajang

PTKP Wanita Lajang pada dasarnya sama dengan PTKP Laki-laki lajang. Idealnya orang lajang, maka dia hanya menanggung biaya hidup dirinya sendiri, sehingga PTKP-nya adalah PTKP bagi dirinya sendiri. Namun pada prakteknya banyak juga wanita lajang yang harus menanggung biaya hidup keluarga/kerabatnya, sehingga meskipun lajang, wanita tersebut diperbolehkan apabila menambahkan tanggungan pada PTKP-nya. Yang dimaksud keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya adalah anggota keluarga yang tidak mempunyai penghasilan dan seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh Wajib Pajak.

Sehingga PTKP bagi Wanita Lajang sesuai dengan ketentuan terbaru (yaitu Peraturan Menteri Keuangan nomor 122/PMK.010/2015) adalah:

Status PTKP Uraian PTKP (Rp)
TK/0 Lajang, tanpa tanggungan 36.000.000,-
TK/1 Lajang dengan 1 tanggungan 39.000.000,-
TK/2 Lajang dengan 2 tanggungan 42.000.000,-
TK/3 Lajang dengan 3 tanggungan 45.000.000,-
Contoh:

Sinta dan Santi adalah sepasang saudara kembar. Keduanya lahir pada tanggal 16 Maret 1987. Setelah lulus sebagai arsitek di sebuah perguruan tinggi ternama pada tahun 2013, Sinta bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor multinasional dengan gaji Rp18.000.000,- per bulan. Sementara saudara kembarnya, Santi karena peruntungan yang tidak terlalu bagus, hingga saat ini masih menganggur. Keduanya tinggal bersama kedua orang tua mereka yang tidak berpenghasilan. Sehingga Sinta secara otomatis menanggung biaya hidup dirinya, kedua orang tuanya, dan tentu saja saudara kembarnya, Santi. Berdasarkan uraian di atas, maka Sinta melaporkan PTKP dengan status TK/3.

Pada awal Januari 2016, karena rajin dan tekun mencari lowongan pekerjaan, akhirnya Santi diterima menjadi karyawan pada sebuah perusahaan perencanaan konstruksi dan dibayar dengan gaji Rp32.000.000,- per bulan. Sesuai dengan perjanjian Sinta dan Santi, sejak saat itu Sinta menangung biaya hidup ibu mereka, sedangkan Santi menanggung biaya hidup bapak mereka. Sehingga PTKP yang dilaporkan Sinta dan Santi pada tahun 2016 masing-masing adalah TK/1.

PTKP Wanita Kawin

Tentu saja menjadi harapan semua wanita di Indonesia, setelah menginjak usia yang matang untuk menikah, wanita tersebut dapat bertemu dengan jodoh pujaan hatinya. Oleh karena itu setelah mengalami masa lajang, wanita akan menikah. Dalam bahasa UU Pajak kita disebut sebagai Wanita Kawin.

Seperti sudah saya sebutkan di atas, bahwa UU Pajak kita menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis, sehingga suami dan istri dianggap sebagai satu entitas. Penghasilan istri digabungkan dengan penghasilan suami, dan kerugian yang dialami istri dilaporkan sebagai kerugian suami. Meski yang terjadi di lapangan adalah, penghasilan suami adalah penghasilan istrinya, sedangkan penghasilan istri bukan penghasilan suami (kidding :P)

Penjelasan mengenai PTKP Wanita Kawin akan saya uraikan di bawah ini:

PTKP Wanita Kawin Yang Tidak Bekerja

Sejak munculnya faham emansipasi wanita, maka wanita yang bekerja merupakan hal yang biasa, terlebih isu gender mainstreaming mulai disosialisasikan di tengah masyarakat kita. Bahkan sekarang sudah menjadi suatu tren tersendiri, sebuah keluarga kecil, dimana suami bekerja, istri juga bekerja, anak mereka diasuh oleh mertua/orang tua, atau bahkan pembantu rumah tangga: lumrah. Tapi bukan itu yang akan kita bahas.

Adalah hak kaum wanita untuk menentukan apakah dia akan bekerja atau tidak. Tentu saja banyak faktor yang mempengaruhinya, kondisi ekonomi keluarga mungkin, tingkat pendidikan, latar belakang orang tua, dsb. Keputusan ada di tangan Anda para wanita, karena masing-masing ada risiko dan kelebihannya.

Bagi Anda yang memilih untuk tidak bekerja, alias memilih sebagai ibu rumah tangga, yang artinya adalah Anda tidak berpenghasilan, maka Anda tidak perlu memiliki PTKP, karena PTKP-nya sudah ditanggung oleh suami/kepala keluarga.

Contoh:

Ibu Yuni, adalah seorang lajang yang baru saja melangsungkan pernikahan pada akhir 2015. Meski memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, dengan kesadaran penuh ibu Yuni memilih menjadi ibu rumah tangga selepas menikah. Suaminya, Tuan Roni adalah seorang pengusaha di bidang jual beli barang farmasi. Dalam hal ini, ibu Yuni tidak perlu memusingkan dengan dengan PTKP-nya sendiri, karena sesuai dengan UU Pajak kita, ibu Yuni merupakan tanggungan Tuan Roni dan dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh OP Tuan Roni dengan rincian PTKP sebagai berikut:

Status PTKP Uraian PTKP (Rp)
K/0 Kawin tanpa tanggungan 39.000.000,-
K/1 Kawin dengan 1 tanggungan 42.000.000,-
K/2 Kawin dengan 2 tanggungan 45.000.000,-
K/3 Kawin dengan 3 tanggungan 48.000.000,-
PTKP Wanita Kawin Yang Bekerja Pada Satu Pemberi Kerja

Berbeda dari ibu Yuni, ibu Yuli adalah seorang wanita karir. Meski sudah menikah, ibu Yuli tetap ingin berkarya bagi masyarakat dan negaranya. Oleh karena itu setelah menikah ibu Yuli tetap menjalani profesinya sebagai dosen filsafat ekonomi di sebuah universitas terkemuka di kotanya. Ibu Yuli mendapatkan penghasilan dari universitas tempatnya bekerja tersebut dan dipotong PPh Pasal 21 sebagai pegawai tetap. Sementara suami ibu Yuli merupakan seorang PNS di kementerian pertanian.

Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 252/PMK.03/2008, maka PTKP ibu Yuli adalah PTKP untuk dirinya sendiri, yaitu TK/0.

Pengasilan yang diterima ibu Yuli dari universitas akan dilaporkan pada SPT Tahunan PPh suaminya dan dilaporkan sebagai penghasilan yang bersifat final.

PTKP Wanita Kawin Yang Bekerja Pada Lebih Dari Satu Pemberi Kerja

Dalam hal wanita kawin bekerja pada lebih dari satu pemberi kerja, maka penghasilannya tidak bersifat final, namun PTKP-nya tetap mengikuti ketentuan Peraturan Menteri Keuangan nomor 252/PMK.03/2008, yaitu untuk dirinya sendiri (TK/0).

Contoh:

Ibu Dita bekerja sebagai konsultan SDM pada dua perusahaan sekaligus, yaitu PT A dan PT B. Ibu Dita bekerja pada PT A pada hari Senin-Rabu dan pada PT B hari Kamis-Sabtu. Suami ibu Dita merupakan PNS pada Kementerian Keuangan, keduanya belum dikaruniai anak. PTKP ibu Dita pada masing-masing perusahaan dicatat dengan status TK/0, dan PTKP tersebut harus diperhitungkan kembali pada SPT Tahunan PPh OP suami Ibu Dita. Dan atas penghasilan yang diterima ibu Dita bukan merupakan penghasilan yang bersifat final, sehingga harus diperhitungkan kembali dengan penghasilan suami.

Contoh, data penghasilan suami dan ibu dita dari masing-masing perusahaan adalah sbb:

ibu dita 1

PTKP suami ibu Dita pada Kementerian Keuangan adalah K/0, sedangkan PTKP ibu Dita di masing-masing perusahaan adalah TK/0.

Maka Pelaporan di SPT Tahunan PPh OP suami ibu Dita adalah sebagai berikut:

ibu dita 2

Meskipun telah dipotong di masing-masing pemberi kerja, setelah digabungkan, PPh yang terutang menjadi lebih besar dari yang telah dipotong, hal ini disebabkan karena:

ibu Dita bekerja pada lebih dari satu pemberi kerja, sehingga penghasilannya tidak dianggap sebagai penghasilan yang bersifat final
Penghasilan yang digabung mengakibatkan PPh yang terutang menjadi lebih besar, di sisi lain, PTKP ibu Dita yang diakui hanya dari salah satu pemberi kerja saja.
Berdasarkan contoh di atas, PTKP Wanita yang telah kawin dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

Dalam hal wanita kawin tersebut tidak bekerja/menjadi ibu rumah tangga, maka wanita tersebut tidak perlu memusingkan soal PTKP karena PTKP-nya cukup dari PTKP suami saja
Dalam hal wanita kawin tersebut bekerja, maka PTKP-nya adalah untuk wanita kawin tersebut saja, yaitu TK/0 sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 252/PMK.03/2008. Sedangkan pelaporan di SPT tahunannya digabungkan dengan penghasilan suaminya, yang ketentuannya:
Apabila wanita kawin tersebut bekerja hanya dari satu pemberi kerja, dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suaminya, maka penghasilannya bersifat final
Apabila wanita kawin tersebut bekerja lebih dari satu pemberi kerja, maka penghasilannya tidak bersifat final dan digabungkan dengan penghasilan suaminya dengan PTKP K/I/… yang tabel lengkapnya dapat dilihat di bawah ini:

Status PTKP Uraian PTKP (Rp)
K/I/0 Kawin, tambahan untuk isteri (hanya seorang) yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami tanpa tambahan tanggungan yang lain 75.000.000,-
K/I/1 Kawin, tambahan untuk isteri (hanya seorang) yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami dengan tambahan 1 orang tanggungan 78.000.000,-
K/I/2 Kawin, tambahan untuk isteri (hanya seorang) yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami dengan tambahan 2 orang tanggungan 81.000.000,-
K/I/3 Kawin, tambahan untuk isteri (hanya seorang) yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami dengan tambahan 3 orang tanggungan 84.000.000,-
PTKP Wanita Kawin Yang Melakukan Usaha

Sebut saja Musdalifa (mantan istri Nassar Sungkar), yang terkenal sebagai seorang pengusaha. Sebut saja istri-istri yang giat berwiraswasta, melakukan usaha sendiri, entah dari rumah (online) maupun melalui tempat usaha. Bagaimana PTKP-nya?
« Read the rest of this entry »

Virus

July 26, 2016 § Leave a comment

“What are you doing here at this hour?”

“I didn’t get to sleep all night, my head was about to explode.”

“What?”

“And I can’t erase this (gue tunjukkin alamat website yang Cindy tulis di tangan gue dua hari lalu), if I erase this, the memory from the night I spent with you will be probably erased too, so I can’t erase it. I know it’s impossible, but this is how I feel.”

“You’re talking no sense. Mabok ya?”

“I know you’re no sense. You don’t make sense, no matter how I redo the calculations. No function can solve you. You’re a bug in a software. You’re messing up my head, my life & my everything. But I don’t want to kill that bug. I want it to stay in my head.”

“Hah?”
« Read the rest of this entry »

Menikah

July 25, 2016 § Leave a comment

Welcome to adulthood!

When you’re married, you are considered as mature enough. You’re no longer staying with your parents (in my case, I have lived in a different house from my parents since 2012). Saya hanya punya waktu 3 bulan untuk mempersiapkan pernikahan saya, dihitung dari tanggal lamaran saya.

Ada yang bilang nikah itu jodoh-jodohan sama MUA, gedung, catering dll. Bener sih, saya menentukan tanggal pernikahan juga setelah bertanya tanggal yang available di venue yang saya mau, MUA favorit saya, catering yang akan saya pakai baru info ke keluarga apakah mereka oke dengan tanggal yang kami pilih atau tidak.

Pas dapet semuanya, saya bilang, ini sih emang jodohnya saya, rejekinya pas. Pas dapet venue yang dimau, MUA favorit saya dan lain – lainnya. Meski ada kekurangan disana sini, tapi yang penting acara lancar.

IMG_0383

« Read the rest of this entry »

Dilamar

July 25, 2016 § Leave a comment

Ketika usia saya menginjak 25 tahun dan saya masih sendirian (atau mungkin saat itu sedang berada di dalam hubungan yg sulit, cailah!), saya mulai (sedikit) kuatir akan diri saya sendiri, “Ini sebegini banget ya jomblonya? Is there something wrong with me?”- Beruntunglah saya memiliki Bapak Ibu yang gak kuatir anak perempuan satu-satunya ini masih sibuk kerja (Dan sibuk main) ketimbang mikirin kapan mau kawin. After all, Ibu saya pernah bilang begini;

“Kalau mau punya jodoh yang baik, ya dirinya sendiri juga harus jadi orang baik.”

Berbekal pesan itu dan entah-udah-berapa-kali-pacaran-putus-hampir-kawin-relationship, saya berdo’a dan bilang begini, “Saya akan ketemu orang yang pas ketika saya berusia 26-27 tahun dan nikah umur 28 tahun.”

Ucapan yang baik itu adalah sebuah do’a. Karena yang berikutnya terjadi sungguh diluar dugaan, ketemu sama suami. Awal perkenalan kami pun aneh.

Dikenalkan dari seorang teman kantor, dan suami pada waktu itu menolak untuk dikenalkan pada saya karena sedang punya gebetan. Saya tertawa waktu itu, masih ada ya lelaki jujur yang bilang lagi punya gebetan dan sedang serius dengan gebetannya itu padahal dikenalin ama cewek lain. Singkat cerita beberapa minggu kemudian, suami menghubungi saya. Dan sekarang kami sudah menikah. Ketika saya sedang menulis di blog yg sepertinya udah ratusan tahun belum di-update ini, posisi suami sedang berada di ujung ruangan, sedang kerja, saya duduk di meja kerja saya sendiri.

Apakah mulus hubungan kami? Nggak tuh. Dibilang nggak mulus juga kurang tepat, yang jelas kami berdua bisa mengatasi hambatan yang muncul. Dengan dia, saya merasa tidak pernah cemburu atau kuatir dia akan selingkuh. Jujur, adalah kunci dari hubungan kami. Sudah lama sekali saya tidak pernah punya hubungan seperti ini. Klik. Effortless dan tidak head over heels, nggak menggebu-gebu.

Dilamar.

ANDK7452
« Read the rest of this entry »

Why I Quit Writing. Period.

December 23, 2015 § Leave a comment

Well, I don’t. I was just giving myself a break. A long one, actually. For almost a year! Life has been up and down throughout these (almost) 12 months.

I’ve been working on my business, my wedding (Yaiy, I’m Married!), got promoted in the office, own a new house and so on.

So, here’s my comeback. No, I don’t quit writing. I don’t want to.

So, what you’ve been up to, fellas?

10 Funny Questions to Ask a Girl on First Date

December 18, 2014 § Leave a comment

I made this post especially for the boys (not the guys) because boys will always be boys. What should you ask to a girl on a first date? The power of first date terkadang bisa menentukan nasib percintaan kalian, apakah bisa lanjut jadi pacar sampai pelaminan atau selamanya gebetan.

(((SELAMANYA GEBETAN)))

First date adalah persamaan dari first impression.

So, here’s the questions!

1. What did you think of me when you first saw me?

2. Is there anything you would like change about yourself?

3. What is the wildest thing you have ever done?

4. First kiss?

5. Apa hal paling memalukan yang kamu pernah lakukan?

6. Your most memorable first date

7. Kamu bakal mau nggak aku ajak lagi for a second date?
(Depends on how this date is going) 😀

8. Your iPod Playlist!
(Your playlist define your personality)

9. Do you have any addictions? Kecanduan akan apa?
(Kamu.) *Munntah*

10. Are you an early morning person or a late night person?

Coba deh kalian praktekin pertanyaan-pertanyaan diatas. Nggak jaminan bakal jadi pacar langsung ya. SELAMAT MENCOBA!

Sejoli

December 16, 2014 § 6 Comments

My new book is available at the bookstores now!

Sejoli is my debut novel that will be published this month via Sekata Media Publisher.
Check their website here.
Twitter here.

Untuk pembelian #Sejoli via saya, silakan mensyen saya di twitter @WangiMS, tinggalkan komen di bawah post ini atau email saya di wangi_susilo@yahoo.com.

Harga buku Rp 35,000 dan buku sudah saya tanda tangan. Secara acak, saya akan memberikan merchandise untuk teman-teman yang membeli buku via saya.

Tunggu kontes review novel saya ini segera ya! Don’t miss it 😀

Sejoli : A debut novel by Wangi Mutiara Susilo

Sejoli : A debut novel by Wangi Mutiara Susilo

Kenya : “Does he make you laugh?”
Rayya : “At least, he doesn’t make me cry.”

Buat Rayya, Kenya adalah seorang part time lover dan full time good friend. He’s number 1 on her speed dial button. Melewati hari Kamis yang notabene adalah hari paling dibenci Rayya bersama dengan cowok itu memberikan kesenangan sendiri. Amazing guy, itulah predikat yang Rayya sematkan diam-diam untuk Kenya.

Bagi Kenya, Rayya adalah his number one and two dalam bucket list-nya. Belum ada seorang cewekpun yang bisa melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda dan tetap bisa membuat Kenya tertawa dengan mudahnya. Namun, mencintai dan menjadikan Rayya sebagai pacar adalah dua hal yang berbeda buat Kenya. Dia takut melakukan yang kedua. Terlalu ngeri membayangkan sahabatnya menjauh kalau kelak dia menyatakan cinta.

Dua sahabat. Satu kisah tentang cinta diam-diam dan menyimpan rasa. What if you find soul mate and best friend in one person that you least expected?

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 1,883 other followers

  • Top Posts & Pages

  • Follow me on Twitter

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: